Jakarta, Situsenergi.com
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat sejarah baru pada 2025. Perusahaan energi panas bumi ini berhasil mencetak produksi listrik tertinggi sepanjang operasionalnya dengan capaian 5.095 GWh.
Angka tersebut tumbuh 5,55% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan produksi didorong tambahan kapasitas 55 MW dari proyek PLTP Lumut Balai Unit 2 serta peningkatan faktor beban pembangkit. Dengan tambahan itu, total kapasitas terpasang PGE kini mencapai 727 MW.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menegaskan perusahaan terus memperkuat strategi bisnis untuk menjaga tren pertumbuhan tersebut.
“Ke depan, kami terus melakukan optimalisasi aset eksisting, mendorong ekspansi bisnis, sekaligus mengembangkan future revenue streams,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (11/3/2026).
Kontribusi produksi listrik terbesar berasal dari wilayah operasi panas bumi utama. Area Kamojang menghasilkan 1.806 GWh, disusul Ulubelu sebesar 1.617 GWh, Lahendong 849 GWh, Lumut Balai 714 GWh, serta Karaha sebesar 109 GWh.

Kinerja sistem juga tetap stabil. PGE mencatat availability factor mencapai 98,93% dengan tingkat outage hanya 0,41%.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, bahkan memproyeksikan produksi listrik pada 2026 kembali menembus rekor baru.
“Kami optimistis produksi listrik dapat mencapai sekitar 5.255 GWh, didukung oleh inovasi dan peningkatan kinerja operasional,” katanya.
Di sisi lain, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, menyoroti empat proyek strategis yang masuk dalam Bappenas Blue Book 2025–2029 dengan nilai investasi lebih dari USD1,09 miliar.
“Realisasi proyek ini akan menambah 215 MW kapasitas listrik rendah emisi mulai 2029 hingga 2032,” jelasnya. (DIN/GIT)
Leave a comment