Oleh : Andi N Sommeng
Di pelabuhan, tangki minyak berdiri diam. Tidak bergerak, tidak berbicara, tetapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang menentukan kehidupan jutaan orang.
Energi memang begitu: bekerja dalam diam, tetapi kegagalannya terdengar sampai ke dapur.
Sejarah energi-migas Indonesia, jika dibaca perlahan, bukan hanya cerita tentang minyak, gas, atau kilang. Ia adalah cerita tentang waktu—tentang kemampuan sebuah bangsa untuk berpikir lebih panjang dari kepentingan hari ini.
Para filsuf pernah mengingatkan hal yang sama dengan bahasa berbeda.
Heraclitus mengatakan bahwa segala sesuatu mengalir. Dalam energi, yang mengalir bukan hanya minyak atau gas, tetapi juga keputusan. Ketika keputusan tersendat, aliran energi pun terganggu.
Nietzsche pernah menulis bahwa manusia sering lebih mencintai harapan daripada kenyataan . Dalam energi, harapan sering berupa rencana besar, presentasi, dan target ambisius. Tetapi kenyataan selalu lebih sederhana: pipa harus selesai, tangki harus terisi, dan proyek harus berjalan tepat waktu.
Indonesia pernah berdiri di puncak sebagai eksportir LNG terbesar dunia. Pernah juga menjadi negara yang harus mengimpor energi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Sejarah itu bukan ironi; ia adalah pengingat bahwa keunggulan tidak pernah permanen.
Energi tidak mengenal nostalgia. Ia hanya mengenal investasi dan disiplin.
Ada satu kesalahan yang sering berulang : mengira energi adalah soal teknologi. Padahal lebih sering ia adalah soal institusi. Kilang dapat dibangun oleh insinyur, tetapi ketahanan energi dibangun oleh konsistensi kebijakan.
Di sini mungkin relevan kata Aristoteles : keunggulan bukanlah tindakan, tetapi kebiasaan . Dalam energi, keunggulan nasional bukanlah proyek besar sesekali, tetapi kebiasaan mengambil keputusan yang tepat— berulang kali, selama puluhan tahun.

Transisi energi hari ini sering dibicarakan dengan nada revolusi . Tetapi energi jarang bergerak revolusioner. Ia bergerak seperti geologi: perlahan, tetapi pasti. Panel surya, turbin angin, LNG, dan kilang akan hidup berdampingan lebih lama dari yang sering dibayangkan.
Energi selalu menuntut kesabaran—dan kesabaran adalah kebajikan yang tidak populer di zaman yang serba cepat.
Mungkin pelajaran terbesar dari sejarah energi Indonesia sederhana saja:
Bangsa tidak kekurangan sumber daya.
Bangsa tidak kekurangan ide.
Yang sering kurang adalah kemampuan untuk menunggu sambil terus bekerja — tanpa tergoda mengubah arah setiap beberapa tahun .
Dan di situlah energi menjadi cermin yang jujur:
ia menunjukkan apakah sebuah bangsa mampu berpikir dalam ukuran waktu yang lebih panjang daripada masa jabatannya sendiri.
|A||N||S|
Dosen-GBUI
Buittenzorg,
07Februari2026
Verba volant, scripta manent
Leave a comment