Home MIGAS Minyak Melemah Lima Hari Beruntun, Pasokan Dan Kekhawatiran Covid Jadi Penyebab
MIGAS

Minyak Melemah Lima Hari Beruntun, Pasokan Dan Kekhawatiran Covid Jadi Penyebab

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup merosot 80 sen, atau 1,2 persen, menjadi USD68,23 per barel. Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut USD1,13, atau 1,7 persen, menjadi USD65,46 per barel.  

Demikian dikutip dari laporan  Reuters,  di New York, Rabu (18/8/2021) atau Kamis (19/8/2021) pagi WIB. Brent kehilangan 11 persen dalam 13 hari perdagangan terakhir sejak akhir Juli.

Koreksi harga itu terjadi karena investor tetap khawatir tentang prospek permintaan bahan bakar ketika kasus Covid-19 melonjak di seluruh dunia saat lebih banyak pasokan mencapai pasar dari produsen utama, termasuk Amerika Serikat.

Patokan minyak berada di bawah tekanan selama beberapa pekan terakhir karena meningkatnya infeksi yang disebabkan varian Delta virus corona di seluruh dunia. Beberapa negara memberlakukan kembali pembatasan perjalanan dan lalu lintas udara melambat dalam beberapa pekan terakhir.
Risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve 27-28 Juli menunjukkan para pejabat mencatat penyebaran varian Delta untuk sementara dapat menunda pembukaan kembali ekonomi secara penuh, dan menahan pasar tenaga kerja.

Persediaan minyak mentah Amerika turun 3,2 juta barel pekan lalu menjadi 435,5 juta barel, level terendah sejak Januari 2020, menurut angka Departemen Energi. Namun, stok bensin naik moderat, dan produk bensin yang dipasok ke pasar–ukuran permintaan–tercatat 9,5 juta barel per hari, hanya 1 persen di bawah level 2019.

Permintaan bahan bakar di konsumen utama dunia itu terus meningkat sepanjang tahun dengan rata-rata empat pekan dari keseluruhan produk Amerika yang dipasok adalah 20,8 juta barel per hari, sejalan dengan tingkat pra-virus korona dari 2019.

Meski angka produksi mingguan fluktuatif, analis mencatat bahwa output minyak mentah Amerika terus meningkat stabil, mencapai 11,4 juta barel per hari pekan lalu. Itu terjadi tepat ketika Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC), bersama dengan sekutu seperti Rusia, sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan selama beberapa bulan kedepan, mengembalikan sebagian pasokan yang telah ditahan kelompok itu sejak awal 2020.

“Dalam kombinasi dengan prospek permintaan yang lebih lemah, dan dalam kombinasi dengan OPEC yang mengatakan mereka akan menambah, pasokan Amerika mulai merangkak naik,” kata Al Salazar, Vice President Enverus di Calgary.

Pekan lalu, Badan Energi Internasional mengatakan permintaan minyak mentah diperkirakan meningkat pada level yang lebih lambat selama sisa tahun ini karena melonjaknya kasus varian Delta. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Elnusa Pecahkan Rekor Nasional, Teknologi CWD Terdalam Dorong Efisiensi Migas

Jakarta, situsenergi.com PT Elnusa Tbk kembali bikin industri migas melirik. Melalui Rig...

RFCC Complex Jadi Game Changer RDMP Balikpapan, BBM Euro 5 Siap Mengalir

Jakarta, situsenergi.com Modernisasi Kilang Balikpapan masuk fase krusial. Fasilitas Residual Fluid Catalytic...

Hilirisasi Batu Bara Digeber! Pertamina–MIND ID Siapkan DME Pengganti LPG Impor

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) dan Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID...

RDMP Balikpapan Dikebut! Proyek Rp123 T Jadi Tulang Punggung Energi Nasional

Jakarta, situsenergi.com PT Pertamina (Persero) terus menggeber Proyek Refinery Development Master Plan...