Home ENERGI Banjir China dan Covid Hantui Permintaan, Minyak Dunia Tertekan
ENERGI

Banjir China dan Covid Hantui Permintaan, Minyak Dunia Tertekan

Share
Share

Jakarta, Situsenergi.com


Harga minyak dunia mengalami tekanan, Senin, karena investor mempertimbangkan kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar dari penyebaran varian Covid-19 dan banjir di China terhadap ekspektasi pasokan yang ketat sepanjang sisa tahun ini.


Minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman September, patokan internasional, turun 3 sen menjadi USD74,07 per barel pada pukul 08.53 WIB, demikian dikutip dari laporan  Reuters, Senin (26/7).


Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka Texas Intermediate (WTI), berada di posisi USD71,99 per barel, berkurang 8 sen.

Kedua kontrak pulih dari kejatuhan 7 persen Senin lalu dan menandai kenaikan pertama mereka dalam 2-3 minggu, pekan lalu, karena investor memperkirakan permintaan akan tetap kuat di tengah penurunan stok minyak dan melonjaknya tingkat vaksinasi.


“Kita melihat reaksi berlebihan di pasar Senin lalu, dan seperti semua koreksi teknikal lainnya sejauh ini, penurunan harga minyak biasanya terbukti berumur pendek,” ujar Howie Lee, ekonom di OCBC Bank Singapura.

“Pemburu barang murah datang berbondong-bondong ketika Brent berada di bawah USD70 dan permintaan ekonomi untuk energi terlihat kuat.”


Namun, kasus virus korona terus meningkat selama akhir pekan lalu dengan beberapa negara mencatat rekor kenaikan harian dan memperpanjang tindakan penguncian yang dapat memperlambat permintaan minyak. China, importir minyak mentah terbesar di dunia, juga mengalami peningkatan kasus Covid-19 saat tengah berjuang melawan banjir parah dan topan di bagian tengah dan timur negara itu.

Selain itu, tindakan keras Beijing terhadap penyalahgunaan kuota impor yang dikombinasikan dengan dampak dari harga minyak mentah yang tinggi dapat membuat pertumbuhan impor minyak China turun ke level terendah dalam dua dekade pada 2021, meski tingkat penyulingan diperkirakan meningkat pada semester kedua.


Namun, ekspektasi pasokan yang ketat menopang harga.

Pasar minyak global diperkirakan tetap defisit meski ada keputusan oleh Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya untuk meningkatkan produksi sepanjang sisa tahun ini.


Prospek pengembalian cepat pasokan Iran berkurang karena pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 didorong ke Agustus. Sementara itu, Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk mengambil tindakan terhadap penjualan minyak Iran ke China ketika bersiap untuk kemungkinan Teheran mungkin tidak kembali ke pembicaraan nuklir atau mungkin mengambil garis yang lebih keras, kata seorang pejabat AS.


Di Amerika Serikat, pemulihan dalam pengeboran minyak relatif moderat karena produsen menahan anggaran belanja. Rig minyak AS naik tujuh menjadi 387 unit, minggu lalu, level tertinggi sejak April 2020, perusahaan jasa energi Baker Hughes Co mengatakan pada Jumat. (SNU)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...