Home MIGAS Stok AS Menyusut, Minyak Melonjak Dekati USD75 Per Barel
MIGAS

Stok AS Menyusut, Minyak Melonjak Dekati USD75 Per Barel

Share
Stok AS Menyusut, Minyak Melonjak Dekati USD75 Per Barel
Share

Jakarta, Situsenergi.com

Harga minyak menguat untuk sesi kelima berturut-turut, Rabu, hingga mendekati level USD75 per barel karena pengilangan Amerika menarik lebih banyak persediaan minyak mentah untuk meningkatkan aktivitas dan memenuhi permintaan yang pulih kembali.

Stok minyak mentah Amerika turun 7,4 juta barel dalam sepekan hingga 11 Juni, tutur Badan Informasi Energi, ketika pemanfaatan penyulingan naik menjadi 92,6 persen, level tertinggi sejak Januari 2020, sebelum pandemi melanda.

Penarikan persediaan lebih kuat dari ekspektasi, didorong juga oleh ekspor sebagai sinyal lain dari peningkatan permintaan di seluruh dunia.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 40 sen, atau 0,5 persen, menjadi USD74,39 per barel, mencapai level tertinggi sejak April 2019, dan mencatat kenaikan lima hari berturut-turut, demikian dikutip dari laporan Reuters, di New York, Rabu (16/6) atau Kamis (17/6) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, bertambah 3 sen menjadi USD72,15 per barel, setelah menyentuh USD72,99 per barel, tingkat tertinggi sejak Oktober 2018.

“Dengan pengilangan mengolah lebih dari 16 juta barel per hari dan ekspor terus meningkat, akan sulit bagi persediaan untuk menghindari penarikan yang konsisten saat kita didorong ke puncak driving season musim panas,” kata Matthew Smith, Direktur ClipperData.

Brent melonjak 44 persen tahun ini, didukung pengurangan pasokan yang dipimpin Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC Plus, dan pemulihan permintaan. OPEC Plus memangkas pengurangan pasokan tahun lalu, tetapi masih menahan jutaan barel pasokan harian dari pasar.

Sejumlah eksekutif dari trader minyak terbesar, Selasa, mengatakan bahwa mereka memperkirakan harga akan tetap di atas USD70 dan permintaan untuk kembali ke tingkat pra-pandemi pada semester kedua 2022.

Rabu, Federal Reserve juga mengemukakan proyeksi untuk kenaikan suku bunga pasca-pandemi pertama pada 2023.

“Kompleks minyak mencerna berita The Fed dengan cukup baik dalam menunjukkan bahwa harga minyak mentah lebih tinggi kemungkinan ada di depan,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.

Pada saat bersamaan, prospek kenaikan ekspor minyak Iran tampaknya kurang mungkin, kata analis. Pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington tentang melanjutkan perjanjian nuklir 2015 diteruskan di Wina, Sabtu. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Jakarta Pertamina Enduro Runner-up Proliga 2026, Siap Tancap Gas di Final Four

Jakarta, situsenergi.com Jakarta Pertamina Enduro memastikan posisi runner-up klasemen Proliga putri 2026...

Pasokan Avtur Aman Jelang Lebaran! AFT Halim Jadi Andalan Pertamina Jaga Kualitas BBM Pesawat

Jakarta, situsenergi.com Menjelang lonjakan penerbangan saat Ramadan dan Idulfitri, PT Pertamina (Persero)...

Astrindo Gandeng IKD, Distribusi Gas ke Mini LNG Plant Jadi Senjata Baru Ekspansi LNG

Jakarta, Situsenergi.com Langkah agresif di sektor LNG kembali ditunjukkan PT Astrindo Nusantara...

Gas Alam untuk Industri Dalam Negeri Makin Kritis, Puskepi Minta Prabowo Negosiasi Ulang Ekspor

Jakarta, situsenergi.com Kebutuhan pasokan gas alam untuk industri dalam negeri kini memasuki...