Home ENERGI Minyak Melambung Lebih Dari 2 Persen, Imbas Laporan Stok AS Yang Menipis
ENERGI

Minyak Melambung Lebih Dari 2 Persen, Imbas Laporan Stok AS Yang Menipis

Share
minyak melambung lebih dari 2 persen imbas laporan stok as yang menipis
Share

New York, situsenergy.com

Harga minyak melejit lebih dari 2 persen pada penutupan, Rabu, didorong menyusutnya stok minyak mentah, bensin, dan penyulingan Amerika Serikat (AS) yang mendongkrak harapan investor untuk peningkatan permintaan bahan bakar.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melonjak USD1,12 atau 2,2 persen, menjadi USD51,20 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, melesat USD1,1 atau 2,3 persen, menjadi USD48,12 per barel, demikian dikutip dari laporan Reuters, di New York, Rabu (23/12/2020) atau Kamis (24/12/2020) pagi WIB.

Persediaan minyak mentah Amerika turun 562.000 barel dalam sepekan hingga 18 Desember menjadi 499,5 juta barel, tutur Badan Informasi Energi, Rabu.

Stok bensin di luar dugaan mengalami penurunan 1,1 juta barel dalam seminggu menjadi 237,8 juta barel, kata EIA, sementara stok minyak penyulinganan merosot 2,3 juta barel dalam pekan tersebut menjadi 148,9 juta barel, lebih dari ekspektasi.

“Kita melihat pemulihan moderat dalam permintaan produk distilasi dan bensin yang mengindikasikan musim liburan,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston. “Angka permintaan itu yang dikombinasikan dengan penarikan stok bensin dan produk distilasi membantu mendukung pasar pagi ini.”

Perusahaan energi Amerika pekan ini menambahkan rig minyak dan gas untuk minggu kelima berturut-turut. Jumlah rig migas, indikator awal produksi di masa mendatang, meningkat 2 menjadi 348 unit dalam sepekan hingga 23 Desember, ungkap perusahaan jasa energi Baker Hughes, Rabu.

Kejatuhan dolar AS juga mendukung harga. Dolar AS yang lemah membuat komoditas dalam denominasi greenback seperti minyak mentah lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Investor juga mencermati Nigeria, di mana gangguan pasokan membantu menaikkan harga. Exxon Mobil Corp merilis pengumuman force majeure di terminal ekspor minyak mentah Qua Iboe pekan lalu setelah kebakaran menghantam fasilitas tersebut dan melukai dua pekerja.

Sumber mengatakan kepada Reuters, produksi diperkirakan baru akan dilanjutkan pada awal Januari.

Fasilitas tersebut diprediksi memuat sekitar 180.000 barel per hari (bph) pada Desember dan 150.000 bph pada Januari.

Namun, pasar minyak tetap gelisah tentang pemulihan permintaan minyak di masa mendatang karena varian baru virus corona yang sangat menular menghantui Inggris, mendorong banyak negara untuk menutup perbatasan mereka dengan negara itu.

Jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim pertama kali untuk tunjangan pengangguran tiba-tiba turun minggu lalu, meski tetap meningkat karena lebih banyak bisnis menghadapi pembatasan dan konsumen tak berdaya di tengah lonjakan kasus Covid-19. (SNU/RIF)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...