Home ENERGI Harga Minyak Melemah, Terimbas Penguatan Mata Uang Dolar
ENERGI

Harga Minyak Melemah, Terimbas Penguatan Mata Uang Dolar

Share
Share

Melbourne, SitusEnergy.com

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, turun 29 sen, atau 0,7 persen menjadi USD38,86 per barel pada pukul 07.42 WIB, seperti dikutip dari laporan  Reuters, Kamis (5/11/2020).

Sementara, minyak mentah berjangka Brent belum memulai perdagangan. Kedua kontrak patokan tersebut melonjak sekitar 4 persen pada penutupan Rabu.

Pelemahan itu disebabkan oleh penguatan yang terjadi pada mata uang dolar AS, ditengah ekspektasi Partai Republik akan tetap mengendalikan Senat paska pemilu Amerika, sehingga hal.itu memupus prospek paket bantuan Covid-19 yang besar.

“Volatilitas minyak akan tetap ada karena sensitivitasnya terhadap dolar AS. Dan dolar AS akan tetap bergejolak setidaknya selama beberapa hari ke depan karena pemilu Amerika masih harus diselesaikan,” kata analis komoditas Commonwealth Bank, Vivek Dhar.

Harga minyak biasanya melemah ketika dolar AS menguat, karena minyak mentah yang dihargakan dalam  greenback  menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Joe Biden, kandidat dari Partai Demokrat, Rabu, mengatakan dia masih berada di jalur menuju kemenangan atas Presiden Donald Trump setelah mengklaim negara bagian Midwestern yang penting, Wisconsin dan Michigan, sementara Trump membuka serangan pada penghitungan suara melalui pengadilan.

Namun, bahkan jika Biden memenangkan kursi kepresidenan Amerika, penghitungan suara saat ini menunjukkan Partai Republik akan mempertahankan kendali atas Senat.

Itu akan menghasilkan Kongres yang terpecah, yang kemungkinan bakal mencegah Biden mengimplementasikan prioritas utamanya, seperti memperluas  healthcare , memerangi perubahan iklim, dan memberikan bantuan kepada jutaan orang yang hidupnya terganggu virus korona.

Sebelumnya, garga minyak melonjak, Rabu, di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya, bersama-sama disebut OPEC Plus, akan menunda meningkatkan pasokan 2 juta barel per hari pada Januari dengan permintaan yang melemah akibat penguncian Covid-19.

Pasar juga didukung oleh penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari ekspektasi, meski itu sebagian karena penghentian produksi jangka pendek di Teluk Meksiko Amerika menjelang Badai Zeta.

Analis mengatakan data persediaan AS tidak semuanya positif, dengan stok bensin meningkat 1,5 juta barel, bertentangan dengan ekspektasi analis untuk penurunan.

Pada saat bersamaan, rata-rata penggunaan jalan raya di Prancis, Italia, dan Spanyol turun ke level terendah sejak akhir Juni, “yang bukan pertanda baik untuk permintaan bensin,” kata ANZ Research.

“Ini kemungkinan akan memberikan tekanan pada aliansi OPEC Plus untuk menunda kenaikan output yang direncanakan pada Januari,” kata ANZ Research. (SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...