Home ENERGI Minyak Dunia Anjlok Ke Level USD 30 Perbarel, Mamit Setiawan : Sudah Saatnya Harga BBM Non Subsidi Turun
ENERGI

Minyak Dunia Anjlok Ke Level USD 30 Perbarel, Mamit Setiawan : Sudah Saatnya Harga BBM Non Subsidi Turun

Share
Share

Jakarta, SitusEnergy.com

Pengamat Energi Nasional, Mamit Setiawan berpendapat, sudah selayaknya Badan Usaha (BU) melakukan peninjauan terhadap harga jual BBM, khususnya non subsidi. Sebab, harga minyak dunia saat ini semakin terperosok. Mengutip data perdagangan BBC, Selasa (17/3/2020), harga minyak Brent (Brent Crude Oil) masih berada di posisi USD 30,72 per barrel dan minyak WTI (West Texas Intermediate Crude Oil) masih dipatok di angka USD 29,92 per barrel.

“Saya kira perlu, karena memang harga minyak sedang mengalami penurunan. Jadi harusnya untuk BBM Non subsidi BU usaha harus menurunkan harganya. Mereka harus mengacu kepada formula baru yang kemarin di sahkan,” ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan saat dihubungi SitusEnergy.com, Rabu (18/3/2020).

Anjloknya minyak dunia sendiri disebabkan karena perang dingin antara Arab dan Rusia, dimana Arab mencoba mengambil kembali pasar dengan mengguyur pasokan minyak mentah gila-gilaan. Ditambah wabah pandemi Corona yang semakin menjadi-jadi, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengendalikan gejolak harga ini.

Menurut Mamit, penyesuaian harga BBM non subsidi memang seharusnya dilakukan sesegera mungkin, namun jika situasi dianggap tidak memungkinkan, paling tidak revisi harga bisa dilakukan maksimal awal April 2020.

“Memang tidak bisa bulan ini saya kira, tapi April, BU harus melakukan penyesuaian terhadap harga BBM jika harga minyak terus mengalami penurunan seperti saat ini,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, harga minyak dunia yang tidak pasti tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan harga BBM.

“Penurunan BBM? Terlalu awal lah untuk kita memprediksi, kita belum tahu. Nanti kalau Arab dan Rusia damai, harga minyak naik lagi,” kata Luhut saat melakukan telekonferens di kantornya kemarin, Senin (16/3/2020). (SNU/rif)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...