Home ENERGI Saudi Aramco Tunda IPO Paska Kilangnya Meledak
ENERGI

Saudi Aramco Tunda IPO Paska Kilangnya Meledak

Share
Share

Jakarta, Situsenergy.com

Pasca penyerangan drone terhadap kilang minyak perusahaan, Pemerintah Arab Saudi dikabarkan mengkaji penundaan IPO (initial public offering) Saudi Aramco. Aramco sebelumnya berencana menjadi perusahaan publik pada November 2019 lewat skema dual-listing. IPO pertama akan dilakukan di Riyadh sebelum go-public di bursa luar Saudi satu tahun kemudian.

“Mereka sedang mengkaji dampak kerusakan. Ada kemungkinan (menunda), tapi masih terlalu dini (untuk memutuskan),” demikian disebutkan dalam keterbukaan informasi publik Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (17/9).

Aksi korporasi Aramco tersebut diprediksi memecahkan IPO terbesar sepanjang masa. Hal ini mengingat valuasi perusahaan raksasa minyak tersebut mencapai USD1 triliun. Rencana IPO terus bergulir dalam beberapa minggu terakhir setelah menunjuk JPMorgan sebagai lead-arranger IPO. Selain itu, Goldman Sachs dan Bank of America juga akan terlibat dalam proses IPO.

“Langkah IPO dilakukan Saudi sebagai bagian dari strategi untuk mendorong sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar minyak,” katanya.

Sebagai informasi, pemberontak Huthi yang dibekingi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Aramco. Kelompok ini tengah berperang dengan koalisi yang dipimpin Saudi. Iran menepis tuduhan AS dan Saudi bahwa Tehran menjadi dalang di balik aksi serangan tersebut. Presiden AS Donald Trump sempat bereaksi keras dengan mengatakan, Amerika sudah “mengunci dan memenuhi senjata” sebelum akhirnya mendingin dengan mengatakan dirinya berharap konflik bisa dihindari.

Serangan tersebut mematikan produksi dua kilang milik Aramco dengan kapasitas 5,7 juta barel per hari. Jumlah tersebut setara dengan separuh total produksi minyak Saudi dan 5 persen pasokan global. Belum jelas kapan produksi minyak Saudi akan kembali normal. Serangan tersebut membuat harga minyak mentah dunia melonjak.

“Pada sesi penutupan perdagangan Senin (16/9/2019), harga minyak Brent meroket 14,6 persen. Angka ini merupakan kenaikan tertinggi sepanjang masa dalam waktu satu hari,” pungkanya. (DIN)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Sudah Saatnya Prabowo Juga Pecah Kementerian ESDM Menjadi Kementerian Energi Dan Kementerian Sumber Daya Mineral

Jakarta, situsenergi.com Sudah saatnya pemerintahan Prabowo mempertimbangkan secara serius pemisahan Kementerian Energi...

Sofyano: Danantara Perlu Lanjutkan Merger BUMN Atau Subholding atau Anak Perusahaan BUMN

Jakarta, situsenergi.com Keberhasilan merger subholding di lingkungan PT Pertamina (Persero) patut diapresiasi...

Opini: Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Oleh: Sofyano ZakariaDirektur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Keberadaan Danantara harus dimaknai...

KAI Perkuat Ketahanan Energi Lewat Angkutan Barang Non-Batubara

Jakarta, Situsenergi.com PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat kinerja solid pada awal...